Produk Terbaru
Tampilkan postingan dengan label relief wayang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label relief wayang. Tampilkan semua postingan

Relief wayang duryudana

Relief tokoh pewayangan Duryudana

relief  batu paras jogja / batu paras putih motif wayang duryudana

Relief wayang duryudana yang dibuat dari batu alam asal Gunungkidul, Yogyakarta, Yang disebut batu paras jogja atau batu paras putih.
Batu yang asli dari alam bukan sebuah batu cetakan. Corak warnanyapun kadang berbeda-beda, seperti ada semburat warna coklat, krem dan keabu-abuan jika batu dalam kondisi basah akan nampak jelas. Ketika batu sudah kering warna semburat akan tampak samar keputih rata.
Ada juga yang batu memang warna krem, dalam kondisi batu basah maupun kering batu tetap berwarna krem.
Jogja stone sendiri hanya menggunakan batu yang berkuwalitas dengan warna batu putih.
Batu yang bagus juga akan mempengaruhi hasil karya seni.
Relief duryudana tersebut dibuat dari batu putih dengan ukuran 80cm x 120cm ketebalan batu 8cm hingga bisa menghasilkan ukiran yang tampak jelas dan timbul.

Untuk pemesanan dan konsultasi produk-produk dari batu alam paras jogja silahkan hubungi kontak disamping.

Lihat juga Relief motif wayang yang lainya


Sekilas kisah cerita tokoh pewayangan Duryudana yang diambil dari beberapa sumber.

Duryudana adalah putra sulung Prabu Drestarastra, raja negara Astina dengan permaisuri Dewi Gandari, putri Prabu Gandara dari negara Gandaradesa (Plasajenar/Pedalangan Jawa).
Duryudana bersaudara 100 orang, 99 orang laki-laki dan 1 orang perempuan, yang disebut dengan Sata Kurawa.
Diantaranya yang terkenal adalah ; Bogadatta, Bomawikata, Citraksa, Citraksi, Durmagati, Dursasana, Gardapati, Gardapura, Kartamarma dan Patiweya.
Duryudana berwatak jujur, mudah terpengaruh karena dungunya dan menyenangi sesuatu yang serba enak dan bergelimang dengan kemewahan.
Sebagai pimpinan/orang yang tertua dari keluarga Kurawa yang berdarah Kuru, Duryudana pun disebut dengan nama Kurupati.
Duryudana juga dikenal dengan nama Detaputra, Gendarisuta, Jakawitana dan Suyudana.
Duryudana menikah dengan Dewi Banowati, putri ketiga Prabu Salya dengan Dewi Pujawati/Setyawati dari negara Mandaraka.
Dari perkawinan tersebut, ia memperoleh dua orang putra bernama ; Leksmanamandrakumara dan Dewi Leksmanawati.
Duryudana sangat lihai bermain gada, dan memiliki kesaktian kebal dari segala macam senjata berkat daya kesaktian Minyak Tala yang membaluri seluruh tubuhnya.
Duryudana gugur dalam perang Bhatarayuda melawan Bima.
Tubuhnya hancur terkena hantaman Gada Rujakpala.



Relief wayang werkudara

Relief tokoh pewayangan Werkudara.

relief batu paras jogja / batu putih motif wayang werkudara

Relief wayang werkudara dibuat dari batu alam gunungkidul, yogyakarta.
Gambar wayang werkudara yang dibuat timbul dinamakan relief atau lukisan timbul karena gambar lebih tampak timbul dari permukaan dasar.
Ukuran asli yang pernah dibuat 80cm x 120cm x 8cm. Gambar ornamen relief werkudara juga dapat dibuat ukuran lebih kecil maupun lebih besar, karena pembuatanya di pahat secara manual. Bukan seperti cetakan yang ukuranya selalu sama. Jadi ukuran relief werkudara dapat mengikuti bidang dinding rumah anda hanya saja jika dibuat lebih kecil detail-detailnya kurang nampak jelas.

Jika anda berniat memesan relief werkudara maupun kerajinan batu motif yang lainya, silahkan hubungi kontak disamping.
Jogja stone Menerima juga gambar desain dari anda sendiri.

Lihat juga Relief motif wayang yang lainya




Sekilas cerita kisah tokoh pewayangan Werkudara diambil dari beberapa sumber.

Werkudara adalah salah satu Pandawa yang sangat populer dalam Mahabarata.
Werkudara adalah putra Prabu Pandudewanata dengan Dewi Kuntinalibranta.
Werkudara memiliki istri beberapa orang, antara lain Dewi Nagagini Putri Hyang Anantaboga, di Saptapertala memiliki putra bernama Antareja.
Dewi Arimbi putri Prabu Arimbaka di Pringgadani memiliki putra Gatutkaca dan Dewi Urangayu putri Barata Mintuna di Narpada memiliki putra Antasena.
Werkudara bertempat tinggal di Jodipati atau Tunggalpawenang.
Werkudara dikenal pula dengan nama-nama lainnya: Bima, Bratasetana, Dandunwacana, Pandusiwi, Kusumayuda, Kusumadilaga, Arya Sena.
Werkudara ditampilkan dengan muka hitam badan gembleng.
Ketika lahir Werkudara berwujud bungkus yang hanya dapat dipecahkan oleh gajah pusaka astina yang bernama gajah sena, kemudian menyatu dan sejiwa dengannya oleh karena itu disebut juga Arya Sena.
Tokoh Werkudara ini sangat populer di tanah Jawa, oleh karena itu sering dijadikan simbol-simbol dalam kehidupan masyarakat.
Di samping memiliki saudara Pandawa, Werkudara memiliki saudara tunggal bayu, yaitu Anoman (kera), Situbanda (gajah), Jayawreksa (raksasa), dan Maenaka (bukit).  Werkudara adalah sosok yang memiliki tingkat kejujuran tinggi, dia mempunyai sifat atau watak akan membalas kebaikan yang telah diperolehnya dari siapa saja, tetapi dia akan berbuat jahat kepada siapa saja yang melakukan kejahatan atau perbuatan yang buruk kepadanya.
Dalam usaha menemukan air parwita sari, Werkudara rela meninggalkan anak saudara dan berkali-kali dibohongi oleh Pandita Druna, hingga akan membawa maut.
Namun atas keteguhan hatinya Werkudara mampu mengatasi rintangan-rintangan dan menyeburkan diri di tengan samudra, sehingga dapat menemukan jati dirinya melalui Dewa Ruci yang mengajarkan ilmu kesempurnaan. Seperti yang diceritakan dalam lakon Dewa Ruci.
Ketika Pandawa dalam bahaya api yang membakar tempat tinggalnya, Werkudara mampu membawa saudara-saudara dan ibunya untuk menyelamatkan diri, atas bantuan garangan putih yang merupakan perwujudan dari Anantaboga, melalui bawah tanah sampai di Kahyangan Saptapretala, ketika itu Werkudara dikawinkan dengan Dewi Nagagini. Dalam lakon Babat Alas Mrentani, saat para Pandawa babat alas untuk membuat kraton, ia berperang melawan raja jin yang bernama Dandun Wacana yang kemudian sejiwa dengannya dan memberinya kerajaan Jodipati. Dalam lakon Partakrama Werkudara mampu memenuhi persyaratan untuk perkawinan Arjuna yang berbentuk banteng pancal panggung yang berjumlah 40 ekor yang harus mengalahkan raksasa penjaganya dan mencarikan kera putih mulus yang disebut dengan Mayangseta dari Pandansurat.
Dalam lakon Dewamambang, Werkudara dapat mempertahankan kehormatan Puntadewa kakaknya dan Amarta.
Werkudara selalu berkata ngoko atau nungkak krama dan tidak pernah menyembah kepada siapa pun, merupakan lambang kejujuran dan kesederhanaan, sehingga apa yang dilakukan adalah sesuai dengan kondisinya, jadi tidak direkayasa, termasuk kepada para Dewa.


Relief wayang gatotkaca


relief ornamen batu paras jogja / batu paras putih gambar wayang gatotkaca

Relief wayang batu alam paras jogja / batu alam paras putih.
Gambar yang tampak timbul diatas lempengan batu putih, pembuatanya dengan cara ditatah secara manual hingga menghasilkan karya seni lukisan timbul yang indah.
Gambar Relief wayang untuk hiasan tempelan dinding rumah, penempatanya dapat dipasang didinding teras rumah maupun dalam ruangan atau menurut situasi bentuk rumah.

Lihat juga motif ornamen relief wayang yang lainya:
Untuk pemesanan relief wayang maupun kerajinan batu putih yang lainya silahkan hubungi kontak disamping.


Sedikit cerita kisah tokoh pewayangan Raden Gatotkaca yang diambil dari beberapa sumber.

Raden Gatotkaca adalah putera Raden Wrekudara yang kedua.
Ibunya seorang putri raksasa bernama Dewi Arimbi di Pringgandani.
Waktu dilahirkan Gatotkaca berupa raksasa, karena sangat saktinya tidak ada senjata yang dapat memotong tali pusatnya.
Kemudian tali pusat itu dapat juga dipotong dengan senjata Karna yang bernama Kunta, tetapi sarung senjata itu masuk ke dalam perut Gatotkaca, dan menambah lagi kesaktiannya.
Dengan kehendak dewa-dewa, bayi Gatotkaca itu dimasak seperti bubur dan diisi dengan segala kesaktian, karena itu Raden Gatotkaca berurat kawat, bertulang besi, berdarah gala-gala, dapat terbang di awan dan duduk di atas awan yang melintang.
Kecepatan Gatotkaca pada waktu terbang di awan bagai kilat dan liar bagai halilintar.
Gatotkaca diangkat jadi raja di Pringgadani dan ia disebut kesatria di Pringgadani, karena pemerintahan negara dikuasai oleh keturunan dari pihak perempuan.
Dalam perang Baratayudha Gatotkaca tewas oleh senjata Kunta yang ditujukan kepada Gatotkaca.
Ketika Gatotkaca bersembunyi dalam awan. Gatotkaca jatuh dari angkasa dan mengenai kereta kendaraan Karna hingga hancur lebur. Gatotkaca beristerikan saudara misan, bernama Dewi Pregiwa, puteri Raden Arjuna.
Dalam riwayat, Gatotkaca mati masih sangat muda.

Relief wayang wisanggeni

Relief batu alam paras putih/paras jogja motif wayang wisanggeni.

Relief batu alam tokoh pewayangan Wisanggeni yang biasanya dibuat dari kulit, untuk yang satu ini gambar wayang dibuat diatas lempengan batu alam paras putih. Pembuatanya antara wayang kulit dan relief wayang batu alam sama-sama dengan cara ditatah/pahat.
Wayang kulit punya ketebalan 3mm - 5mm sedangkan relief wayang batu alam paras putih/batu paras jogja menggunakan bahan batu dengan ketebalan 5cm-10cm, ukiran gambar wayang tampak jelas hingga menghadirkan ukiran 3D, relief wayang untuk penghias tempelan dinding secara permanen dan tidak bisa dipindah-pindahkan seperti wayang kulit.

Jika anda berminat memesan relief wayang atau juga bisa motif yang lainya sesuai yang anda inginkan Silahkan hubungi ke kontak jogja stone.

Sedikit kisah tentang tokoh pewayangan wisanggeni:
Tokoh pewayangan Wisanggeni.
merupakan tokoh kreasi pujangga Jawa.
Wisanggeni dikenal sebagai putra Arjuna yang lahir dari seorang bidadari bernama Batari Dresanala. Wisanggeni merupakan tokoh yang dikenal pemberani, tegas dalam bersikap, serta memiliki kesaktian luar biasa.
Wisanggeni digambarkan sebagai pemuda yang angkuh, tapi hatinya baik dan suka menolong.
Wisanggeni tidak tinggal di dunia bersama para Pandawa, melainkan berada di kahyangan. Dalam hal berbicara, Wisanggeni tidak pernah menggunakan basa krama (bahasa Jawa halus) kepada siapa pun, kecuali kepada Sanghyang Wenang.
Kesaktian Wisanggeni dikisahkan melebihi putra-putra Pandawa lainnya.
Seperti Antareja, Gatutkaca, dan Abimanyu. Sepupunya yang setara kesaktiannya hanya Antasena. Namun bedanya, Antasena bersifat polos dan lugu, sedangkan Wisanggeni cerdik dan penuh akal.

Relief wayang satyaki

Relief batu alam paras jogja/batu alam paras putih bentuk wayang satyaki

Relief ornamen batu alam paras jogja dengan motif tokoh pewayangan raden Satyaki yang dibuat di atas lempengan batu alam paras hingga menjadi sebuah seni relief 3D atau lukisan timbul dengan menggunakan batu ketebalan 5cm panjang dan lebar 50cm X 100cm.
Relief wayang Satyaki untuk penghias tempelan dinding dalam rumah maupun luar ruangan.
gambar relief batu seperti contoh dengan corak batu warna krem dan berbintik jika sudah kering akan berubah warna ke putih rata karena warna batu aslinya warna putih.
Jika anda berniat memesan Relief wayang satyaki atau motif ukiran yang lainya dan sekedar minta informasi silahkan hubungi kontak disamping.

Sedikit tentang sosok wayang raden satyaki:
          Raden satyaki dalam cerita jawa disebutkan sebagai sepupu kresna dan pandawa.
Dalam kisah cerita jawa satyaki putra dari satyajit raja dari kerajaan lesanpura.
Dalam kelahiran pewayangan jawa dikisahkan ketika warsini mengandung mengidamkan menunggang macan putih.
Satyajit memanggil para keponakanya diantara:
Kresna, baladewa dan pandawa untuk menangkap macan putih dan yang berhasil menangkapnya yaitu kresna.
Tapi macan putih yang berhasil ditangkap adalah penjelmaan dari singamulangjaya patih kerajaan swalabumi yang diutus rajanya prabu satyasa untuk menculik warsini.
Ketika warsini naik kepunggung macan putih langsung dibawa kabur.
Kresna yang merasa bersalah lanjut mengejar singamulangjaya.
Dalam perjalanan singamulangjaya berusaha mengeluarkan bayi dalam kandungan warsini namun bayi tetap hidup setelah dihajar singamulangjaya dan bayi justru semakin besar berubah menjadi pemuda pada akirnya pemuda berhasil membunuh singmulangjaya, arwah singamulangjawa menyatu dalam diri pemuda.
Warsini pun memberi nama pada putranya satyaki. Pemuda yang dewasanya dalam waktu yang sangat singkat.


RELIEF WAYANG ANTASENA

Relief wayang antasena

Relief batu alam paras jogja / batu alam paras putih motif wayang antasena

Relief atau ornamen motif pewayangan dengan tokoh Antasena. Relief ornamen yang dibuat dari batu alam paras jogja maupun batu alam paras putih. Digambar yang terlihat warna kuning/ krem dikarenakan habis dicuci dan efek dari kamera. Jika batu sudah kering akan berubah menjadi warna putih rata dan bintik-bintik krem akan samar atau juga bisa hilang tidak akan kelihatan. Relief pewayangan diambil dari gambar wayang kulit dan dibuat diatas lempengan batu dengan cara dipahat/diukir manual oleh pembuatnya sehingga menjadi lukisan timbul atau sebutan yang tidak asing lagi orang menyebutnya Relief.

Jika anda berminat untuk memiliki Relief/ornamen pewayangan atau juga ukiran batu alam paras jogja atau batu alam paras putih motif yang lainya silahkan hubungi kontak disamping.

Sedikit cerita singkat tentang kisah pewayangan tokoh Antasena:
       Antasena adalah nama salah satu tokoh pewayangan di jawa dan tidak ada dalam pewayangan mahabarata.
Tokoh wayang antasena merupakan kreasi para pujangga Jawa.
Tokoh antasena dikenal sebagai putra Bimasena atau werkudara, antasena bersaudara dengan Gatotkaca.
Dalam pewayangan versi Surakarta dan jogja
Antasena dan antareja dua tokoh yang berbeda.
Dalam cerita pewayangan versi jogja Antasena dan Antareja adalah dua tokoh yang berbeda.
Sedangkan untuk versi surakarta antasena nama lain dari antareja.
Dalam pewayangan Antasena dikisahkan sebagai putra Bima yang paling sakti diantara saudaranya. Antasena mampu terbang kelangit dan bisa amblas ke dalam perut bumi.
Antasena digambarkan berwatak polos dan lugu, dan teguh dalam pendirian.
Dalam berbicara dengan siapa pun, antasena selalu menggunakan bahasa ngoko sehingga seakan-akan tidak mengenal tata krama/bahasa.
Namun dalam gaya berbicara justru menunjukkan kejujurannya di mana antareja memang tidak suka dengan basa-basi/menunjukan apa adanya.


Batu Alam Yogyakarta

klik menu diatas untuk melihat koleksi yang lebih banyak.

















Batu alam yogyakarta memang batu alam paras jogja atau paras putih berasal dari daerah yogyakarta tepatnya di kab. gunungkidul. pengrajinya juga rata-rata asli masyarakat gunungkidul, pengrajin / pengukir batu alam dari kecamatan semanu, karangmojo, ponjong, semin, wonosari, tepus, gading, karangtengah dan masih ada beberapa pengrajin dari wilayah yang lain.